Hingga pada suatu hari saat di Bagus sedang
berada di toilet dia mendengar suara
aneh dari kamar mandi dekat dia keluar tadi. Diintipnya dari kamar mandi yang tadi
dia pakai. Dan perkiraan dia pun benar, Bunga sedang memakai barang haram itu.
Baguspun langsung bergegas “ Bunga!! Bunga!! Hentikan!! Kau tak boleh begini
terus. Kau bodoh!!”
Perkataan bagus pun tidak di gubris oleh Bunga
dan akhirnya Baguspun memilih untuk mendobrak pintunya dan melihat Bunga over
dosis. Bagus langsung bergegas berteriak mencari ada anak perempuan untuk
menolong Bunga karena dia tahu dia tak mungkin menggendong Bunga. Akhirnya 3
anak perempuan. Temannya yang baru saja berolahraga langsung menolong Bunga dan
bergegas membawa Bunga kerumah sakit. Sebelumnya Bagus sudah izin dengan guru
BP membawa Bunga kerumah sakit tanpa member tahu bahwa Bunga sedang over dosis.
Sampai rumah sakit, 3 temannya itu langsung kembali kesekolah tidak Bagus.
Bagus tampak kebingungan, dia merasa
kasian sekaligus prihatin kepada Bunga. Hingga akhirnya Dokter keluar.
“bagaimana
keadaan Bunga dok?” Tanya Bagus berharap.
“Over
dosisnya sangat berat. Untung saja kau cepat membawanya kemari. Kalau tidak
mungkin dia sudah tidak ada. Bunga mengalami depresi berat sehingga dia menjadi
pemakai seperti ini. Apa kau tau sebabnya?”
Dalam
hati dia menjawab, “ini pasti karena keluarganya itu.” Namun akhirnya Baguspun
menjawab dengan nada lirih, “saya tidak tahu dok.”
“Dimana
ayah dan ibunya? Kalau begitu kau harus membentunya. Dia seperti tak punya arah
mau kemana. Kau harus menolongnya! Tuntunlah dia kejalan yang benar!” saran
dokter.
“baik,
Dok. Saya akan berusaha sebisa saya.”
Dan hari itu juga Bunga langsung dibolehkan
pulang. Bunga keluar dari ruang sakitnya dan melihat Bagus dengan pandangan tak
menyukai. Bagus pun memandang Bunga meskipun dia tahu, itu adalah larangan. Dia
takut pandangannya berubah jadi nafsu. Dan sampai didepan Bagus,Bunga langsung
mengomel, “ apa maksutmu?? Hah?! Memang kau siapa?! Berani beraninya kau
menolongku!!”
Bagus menjawab “ sssttt . diaam!! Ini dirumah
sakit. Tak baik kau berteriak teriak seperti ini.”
Akhirnya mereka pun berlalu menuju rumah
Bunga. Sampai didepan rumah Bunga, Bagus mengantar Bunga sampai depan pintu
rumah sambil merasa tak enak karena sebelumnya dia belum pernah bersama seorang
perempuan sedekat ini.
“Bunga…..” kata Bagus ragu ragu.
“apa?? Puas kau?!!kamu tak tahu ya?! Dengan
kamu menolongku, kamu menambah beban dan masalahku!! Seharusnya aku sudah
berada ditempat yang menyenangkan!!”
“hey!! Kau tak boleh berkata begitu. Kau seharusnya bersyukur. Orang tuamu masih lengkap. Kau masih bisa dibiayai oleh mereka! Kau tak tau? Diluar sana masih ada yang kurang beruntung dari kamu!! Yang tak punya ayah dan ibu. Yang tak bisa sekolah? Tapi kamu? Yang bisa……”
“stop!!! Punya hak apa loe ngomong itu ke gue
hah?! Loe bukan siapa siapa gue. Orang tua gue aja gak pernah yang namanya
nyeramahin gue. Sekarang loe yang baru gue kenal berani beraninya ceramah
panjang lebar ke gue!!
“tapii …..aku… hanya…” balas Bagus terbata
bata”
“DIAM!!!!” balas Bunga dengan nada meninggi
“pergi kau!!” tambah Bunga sambil membanting pintu keras keras.
Akhirnya
Bagus pulang dengan tampang kecewa. Di perjalanan dia berpikir bahwa dia telah
berjanji akan menuntun Bunga ke jalan yang lebih baik. bersambung ..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berkomentarlah dengan bahasa yang baik dan sopan, karena komentar Anda menentukan pandangan orang lain terhadap Anda.