Aku Sayang Ibu
Ibu
. . .
9
bulan aku hidup di rahimmu
Kau
beri aku nutrisi melalui plasentamu
Saat
cairan anestesi merasuki tubuhmu
Jarum
suntik, gunting, silet melukai ragamu, kau hadapi itu
Kau
rela merasakan sakit yang teramat sangat hanya untuk melahirkanku
Hingga
nyawa pun kau pertaruhkan untukku
Namun
rasa sakit itu tak terasa lagi
Ketika
kau mendengar tangisan kecilku
Walau
hanya 20 Hz kau tetap tersenyum bahagia
Ibu
. . .
15
tahun yang lalu
Aku
hanya anak kecil yang tak berdaya
Jangankan
untuk berlari secepat gelombang elektromagnetik
Berdiri
dengan sepasang kaki aku pun tak mampu
Ibarat
sebuah grafitasi telah mencengkeram ragaku
Hantaran
petir telah menyambar kakiku
Aku
hanya terlentang tak berdaya di atas kapas dan anyaman rotan
Lalu
kau mengajariku berjalan
Hingga
kini aku dapat berlari secepat kilat yang menyambar
Secepat
cahaya menembus ruang hampa
Dan
berdiri 180 derajat untuk melindungimu
Dahulu
aku hanya anak kecil yang bisu
Aku
hanya bisa menangis
Lebih
dari satu liter H2O selalu keluar dari bola mataku setiap 60 detik
Lalu
kau mengajariku berbicara membentuk gelombang transversal
Hingga
kini aku punya sebuah gaya untuk membacakan puisi untukmu
Walau
gaya itu tak seperti gaya grafitasi
Tak
pula seperti gaya gesek
Namun,
itu seperti gaya magnet yang bisa menarik hatimu ke medan hatiku Ibu
Ibu
. . .
Kau
selalu ada untukku
Saat
aku putus asa seperti sebuah rumus vektor yang tak pernah diketahui resultannya
Saat
aku kesepian seperti dewi malam yang ditinggal para bintang
Saat
aku kehilangan harapan bagaikan pungguk merindukan rembulan
Kau
menyemangatiku hingga aku dapat mendaki puncak gunung tertinggi
Walau
tanpa rumus kinetik tak pula rumus mekanik
Kau
menyemangatiku hingga aku dapat sebrangi lautan
Tak
peduli badai matahari menghadang, puting beliung melingkar
Kau
menyemangatiku hingga aku dapat melakukan lebih dari yang aku bisa
Namun,
terkadang aku membuatmu hatimu kecewa
Tak
jarang kau juga meneteskan H2O dari matamu
Namun
kau selalu tegar
Kau
selalu sabar dan tak pernah menyerah
Seperti
metode lumpur aktif
Kau
terus mendidikku menjadi buah hati yang sempurna
Walau
ku tahu, tak ada manusia yang sempurna di jagad raya ini
Namun
ketulusanmulah yang membuatku bangga
Ibu.....
Putihnya
tulang rusukku tak seputih cintamu,
Hangatnya
ultrafiolet tak sehangat dekapanmu,
Lembutnya
sutra tak selembut belaianmu
Syahdunya
angin laut tak sesyahdu kasihmu
Besarnya
bumi tak sebesar kasih sayangmu kepadaku
Kasih sayang mu seperti tan 90o,
yang tak terhingga sepanjang massa
Mungkin
aku tak akan pernah bisa membalas semua kebaikanmu
Aku
ingin seperti larutan H2SO4
Seperti
gelombang radio berfrekuensi 1 MHz
Agar
aku bisa menyalurkan arus cinta hatiku ke dalam hatimu dengan cepat
Dan
ungkapkan rasa terima kasihku kepadamu
Ibu
. . .
Ingin
rasanya ku peluk dirimu dengan erat,
Dan
bisikkan sepatah kata untukmu
“Aku
sayang Ibu”

kritik dan saran sangat diharapkan. Terima kasih.
BalasHapusMaaf jika ada kesalahan kata dan tulisan. ^_^
bagus pit :)
BalasHapuskeren, big thumb :D
BalasHapusTerima kasih . Tpi sprtinya puisi itu agak "wagu" __________
BalasHapusgravitasi itu pakek V bukan F, mba tiya' :D
BalasHapus